Saturday, March 4, 2017

Jenaka sang Jelata

Wahai tuan,
sudikah kau ku ambil waktunya,
untuk sekiranya memberi jenaka padaku yang jelata ini?

Wahai tuan,
disini aku seorang diri,
bertumpu pada sepercik harapan akan waktu.

Namun tuan,
sepertinya waktu tak berpihak padaku yang jelata,
poros jarum itu sudah membeku,
tak kunjung ia berputar seperti semula.

Tuan,
bolehkah ku meminta padamu,
'tuk berikan jenaka mu agar waktu bisa kembali.

Tuan,
aku mohon,
kasihanilah jelata yang seorang diri ini,
yang hanya ingin waktu tuk kembali berputar.


Monday, January 16, 2017

Sampai Jadi Debu

kasih,
maukah kau mendengar curahan suara hatiku?

dia sedang getar,
tiada dapat dia menahan derasnya aliran waktu.

pondasi kepercayaanku telah gugur,
ia rapuh dimakan sang masa yang larut akan angan keabadian.

kasih,
satu per satu gedung-gedung itu jatuh.

pendahulu-pendahulu ku sudah tak lagi mampu berdiri,
sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah.

tak lama ketakutan merajai ku,
menggemparkan sekeping hatiku yang tak lagi kokoh.

kasih,
akankah kita berakhir seperti mereka?

terpaut akan angan keabadian,
yang kemudian mengisakan tangis karna esok pun tak dapat mereka jangkau.

lalu hati ku bertanya,
akankah kita seberakhir seperti mereka?

bermodalkan cinta dan utopia akan kebahagiaan,
namun seketika dihanyutkan oleh lapisan realita.



And even if i lost faith in love,
i know i can have my faith on you.



Sunday, November 27, 2016

Sementara (Rindu Sendu)

Dan sementara,
akan ku karang cerita,
tentang mimpi jadi nyata,
untuk asa kita berdua.

Ada rasa yang sepatutnya tak ku ungkapkan,
karna jika ia terucap,
kelak hati kan sesak.

Ada kata yang sudah ku pendam sedemikian hari,
tak tahu sampai kapan,
hingga ia akhirnya melebur dengan isakan.

Ah, sudahlah.

Tak sepatutnya aku menuntutmu untuk hadir,
karna jarak dan waktu,
musuh abadi cerita kita.

Dan aku bisa apa,
hanya meragu,
sembari menunggu.

Sementara,
lupakanlah rindu.

Sunday, September 11, 2016

You know what makes a broken-heart hurts? it's because you are placed in the situation by option. You have choices that lead you to go to different paths. Not like death whose affair is chosen by God, broken-heart doesn't occur naturally. You are faced between two options; to fight or to let go. And what worse is when you're the one who choose to fight but your significant other decided to make the call, thus you're left to deal with the choice. You are having the delusion that you can fix the situation. And you start blaming yourself for not doing so. You wish you have loved deeper and you wish you have fought harder.

But then i guess it's also natural for people to fall out of love,
it just happened not to be me.
.
.
.
.
.
Cause sweetheart, there's nothing you can do with it.
So please stop fighting.

Sunday, August 28, 2016

Bukan yang Teristimewa

Aku bukan yang teristimewa,
bukan yang kau paling khususkan,
bukan jua yang kau paling dahulukan.

Aku tak jauh berbeda dengan mereka yang pernah mengisi harimu.
Yang pernah kau pijarkan senjanya,
menjadi yang paling indah di landskapnya.
Begitu pula bermelodi untuk mereka,
kau pasti menjadi yang sangat merdu diantara alunan-alunan lainnya.

Namun aku,
dia,
dia,
dan dia,
mempunyai alunan yang sama bagimu,
kami hanyalah segelintir not dalam lagu yang sama,
berbagi nada dengan kenangan tersendiri.

Tapi kamu,
kamu selalu berbeda dari yang pernah mengisi hariku,
kamu mempunyai pesonamu sendiri,
yang entah mengapa tak pernah luput dari pucuk mataku.

Katamu jangan hiraukan mereka yang pernah mengisi hatimu,
tapi mau bagaimana lagi,
karna ku dan mereka tak jauh berbeda.
Hanya berharap kelak menjadi yang teristimewa bagimu.

Hati memang tak bisa bohong,
di ratusan hari kebersamaan kita selalu terselip rasa khawatir.
Bahwa kelak rasamu pada yang lain akan terpicu di sepersekian detik saat kita tak sedang bersama.
Walau pada akhirnya kerap ku jalani hari dengan berbohong.

Tapi toh pada akhirnya,
memang tidak ada yang istimewa dari diriku ini.