Thursday, August 17, 2017

Secangkir Hangat Teh

Aku bukan seorang petanya unggul,
Mungkin karna ku enggan menantang Tuhan dengan mempertanyakan keputusanNya.

Aku lebih memilih untuk merasakan,
Bersyukur atas semua berkat dan pilu yg telah Ia utus untukku.

Termasuk dalam kasusmu.

Untuk apa pula aku mempertanyakan aku dan kamu,
Dan masa depan kita.

Yang aku tahu,
Sekarang aku aman,
Sekarang aku nyaman.

Biarlah masa depan menyimpan misteri nya sendiri,
Bukankah itu keindahan takdir?

Agar canda atau tangis yang kelak menjawabnya,
Entah itu lusa atau 10 tahun lagi.

Namun sekarang,
Yang ku tahu,
Aku hanya ingin bersandar padamu,
Berbagi kisah pada sore itu,
Dengan secangkir teh kesukaanmu.

Wednesday, August 9, 2017

Pulang

Aku sedang menunggu ia tuk ingat rumah,
Sekedar menyapa ku yang menunggu nya tuk pulang.

Permintaanku tak banyak,
Hanya ingin kau tuk membuka pintu itu kembali.

Bahwasanya ada yang telah lama hilang dan tak kunjung pulang.

Bila memang ini bukan rumahmu lagi,
Sudikah kau tuk sekiranya bertamu?

Sekedar tuk mencoba,
Karna mungkin kau lupa hangatnya rumah.

Atau bila perlu,
Akan ku buka pintu depan seluasnya,
Agar kau tahu pintu ini tak pernah tertutup.

Hanya perlu kau ketok agar ku tahu ada pengunjungnya.

Saturday, March 4, 2017

Jenaka sang Jelata

Wahai tuan,
sudikah kau ku ambil waktunya,
untuk sekiranya memberi jenaka padaku yang jelata ini?

Wahai tuan,
disini aku seorang diri,
bertumpu pada sepercik harapan akan waktu.

Namun tuan,
sepertinya waktu tak berpihak padaku yang jelata,
poros jarum itu sudah membeku,
tak kunjung ia berputar seperti semula.

Tuan,
bolehkah ku meminta padamu,
'tuk berikan jenaka mu agar waktu bisa kembali.

Tuan,
aku mohon,
kasihanilah jelata yang seorang diri ini,
yang hanya ingin waktu tuk kembali berputar.


Monday, January 16, 2017

Sampai Jadi Debu

kasih,
maukah kau mendengar curahan suara hatiku?

dia sedang getar,
tiada dapat dia menahan derasnya aliran waktu.

pondasi kepercayaanku telah gugur,
ia rapuh dimakan sang masa yang larut akan angan keabadian.

kasih,
satu per satu gedung-gedung itu jatuh.

pendahulu-pendahulu ku sudah tak lagi mampu berdiri,
sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah.

tak lama ketakutan merajai ku,
menggemparkan sekeping hatiku yang tak lagi kokoh.

kasih,
akankah kita berakhir seperti mereka?

terpaut akan angan keabadian,
yang kemudian mengisakan tangis karna esok pun tak dapat mereka jangkau.

lalu hati ku bertanya,
akankah kita seberakhir seperti mereka?

bermodalkan cinta dan utopia akan kebahagiaan,
namun seketika dihanyutkan oleh lapisan realita.



And even if i lost faith in love,
i know i can have my faith on you.



Sunday, November 27, 2016

Sementara (Rindu Sendu)

Dan sementara,
akan ku karang cerita,
tentang mimpi jadi nyata,
untuk asa kita berdua.

Ada rasa yang sepatutnya tak ku ungkapkan,
karna jika ia terucap,
kelak hati kan sesak.

Ada kata yang sudah ku pendam sedemikian hari,
tak tahu sampai kapan,
hingga ia akhirnya melebur dengan isakan.

Ah, sudahlah.

Tak sepatutnya aku menuntutmu untuk hadir,
karna jarak dan waktu,
musuh abadi cerita kita.

Dan aku bisa apa,
hanya meragu,
sembari menunggu.

Sementara,
lupakanlah rindu.