Friday, September 7, 2018

Hidup dan Semesta

Hidup memang tidak bisa ditebak,
Aku,
Kamu,
Kita bukan penentu tunggal jalan kita.

Ada peran semesta yang turut andil di dalamnya,
Sehingga kadang,
Kita hanya bisa tersenyum kecil dengan hasil yang ia sodorkan.

Aku dan kamu misalnya,
Dua benang yang berusaha menjahit takdirnya,
Sekian lama bersanding,
Namun ternyata semesta belum memperbolehkan kita bersama.

Begitu pun aku tetap bersyukur,
Karna aku masih kaum yang beruntung,
Yang dipertemukan dengan cinta,
Walau mungkin tak berujung bersama.

Berterimakasih karna banyak pelajaran yang bisa ku petik dari mu,
Dan banyak panutan yang kau berikan untukku.

Terimakasih sudah mengajari ku menahan ego ku,
Untuk mengerti dan mendengar cerita dibalik dua sisi.

Terimakasih sudah mengajarkan ku untuk berterimakasih,
Kini ku mengerti,setiap usaha memang harus dihargai.

Namun yang terlebih,
Terimakasih sudah sudi mengukir cerita denganku yang enggan menerka-nerka.

Perjalananan kita terlalu indah untuk ku tuangkan dalam aksara,
Namun ku harap kau mengerti,
Bilamana semesta mengizankan,
Aku pasti akan selalu memilihmu.

Jika memang belum saatnya bersanding,
Ku harap semesta senantiasa memberikanmu kebahagiaan,
di lain kesempatan,
yang bukan aku.

Untukmu,
Yang kuharap sedang berbahagia.


Thursday, August 17, 2017

Secangkir Hangat Teh

Aku bukan seorang petanya unggul,
Mungkin karna ku enggan menantang Tuhan dengan mempertanyakan keputusanNya.

Aku lebih memilih untuk merasakan,
Bersyukur atas semua berkat dan pilu yg telah Ia utus untukku.

Termasuk dalam kasusmu.

Untuk apa pula aku mempertanyakan aku dan kamu,
Dan masa depan kita.

Yang aku tahu,
Sekarang aku aman,
Sekarang aku nyaman.

Biarlah masa depan menyimpan misteri nya sendiri,
Bukankah itu keindahan takdir?

Agar canda atau tangis yang kelak menjawabnya,
Entah itu lusa atau 10 tahun lagi.

Namun sekarang,
Yang ku tahu,
Aku hanya ingin bersandar padamu,
Berbagi kisah pada sore itu,
Dengan secangkir teh kesukaanmu.

Wednesday, August 9, 2017

Pulang

Aku sedang menunggu ia tuk ingat rumah,
Sekedar menyapa ku yang menunggu nya tuk pulang.

Permintaanku tak banyak,
Hanya ingin kau tuk membuka pintu itu kembali.

Bahwasanya ada yang telah lama hilang dan tak kunjung pulang.

Bila memang ini bukan rumahmu lagi,
Sudikah kau tuk sekiranya bertamu?

Sekedar tuk mencoba,
Karna mungkin kau lupa hangatnya rumah.

Atau bila perlu,
Akan ku buka pintu depan seluasnya,
Agar kau tahu pintu ini tak pernah tertutup.

Hanya perlu kau ketok agar ku tahu ada pengunjungnya.

Saturday, March 4, 2017

Jenaka sang Jelata

Wahai tuan,
sudikah kau ku ambil waktunya,
untuk sekiranya memberi jenaka padaku yang jelata ini?

Wahai tuan,
disini aku seorang diri,
bertumpu pada sepercik harapan akan waktu.

Namun tuan,
sepertinya waktu tak berpihak padaku yang jelata,
poros jarum itu sudah membeku,
tak kunjung ia berputar seperti semula.

Tuan,
bolehkah ku meminta padamu,
'tuk berikan jenaka mu agar waktu bisa kembali.

Tuan,
aku mohon,
kasihanilah jelata yang seorang diri ini,
yang hanya ingin waktu tuk kembali berputar.


Monday, January 16, 2017

Sampai Jadi Debu

kasih,
maukah kau mendengar curahan suara hatiku?

dia sedang getar,
tiada dapat dia menahan derasnya aliran waktu.

pondasi kepercayaanku telah gugur,
ia rapuh dimakan sang masa yang larut akan angan keabadian.

kasih,
satu per satu gedung-gedung itu jatuh.

pendahulu-pendahulu ku sudah tak lagi mampu berdiri,
sehingga mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah.

tak lama ketakutan merajai ku,
menggemparkan sekeping hatiku yang tak lagi kokoh.

kasih,
akankah kita berakhir seperti mereka?

terpaut akan angan keabadian,
yang kemudian mengisakan tangis karna esok pun tak dapat mereka jangkau.

lalu hati ku bertanya,
akankah kita seberakhir seperti mereka?

bermodalkan cinta dan utopia akan kebahagiaan,
namun seketika dihanyutkan oleh lapisan realita.



And even if i lost faith in love,
i know i can have my faith on you.